Obsesi Dalam Diam


Bab 1: Ismi

Ismi bukan siapa-siapa di sekolah. Ia bukan ketua OSIS, bukan murid teladan, dan bukan pula si cantik yang jadi pusat perhatian. Tapi ia punya dunia sendiri. Dunia yang hanya berisi satu nama:


Pak Joko.


Guru olahraga itu bagaikan dewa dalam pikirannya—tegap, berkeringat, selalu memakai baju press body yang menunjukkan lekuk tubuh atletisnya. Otot lengan, dada bidang, dan cara Pak Joko meniup peluit membuat Ismi bergetar setiap kali pelajaran olahraga dimulai.


Semua hanya tahu Ismi duduk diam di pojok. Tapi tak ada yang tahu bahwa Ismi mencatat segalanya.Jam masuk Pak Joko. Wangi deodorannya. Kaos mana yang paling sering ia pakai. Hingga satu helai rambut yang pernah ia temukan di kamar mandi guru—dan disimpan dalam plastik kecil.


Di kamarnya, Ismi memiliki altar kecil penuh foto Pak Joko—kebanyakan diambil diam-diam. Ia bahkan mencium layar ponselnya sebelum tidur, sambil berkata:


“Suatu hari… kamu akan jadi milikku.”



Bab 2: Penolakan yang Menghancurkan


Senja itu, langit di luar jendela terlihat seperti luka yang belum sembuh—merah, ungu, kelabu.

Ismi berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar. Ia sudah menyiapkan kata-katanya berhari-hari, bahkan bermalam-malam, mengulang di depan cermin, berharap hari ini Pak Joko akan mendengar… dan memahami.


“Saya… saya tahu ini salah. Tapi saya juga tahu, saya nggak pernah setulus ini sebelumnya. Saya nggak bisa pura-pura lagi, Pak,” suara Ismi nyaris pecah, “Saya suka Bapak…”


Pak Joko berdiri membelakangi Ismi, memandang keluar jendela. Bahunya diam. Tak ada reaksi.

Ismi menunggu. Napasnya tercekat.


Lalu, suara itu datang—datar, tenang, seperti peluru yang tidak terlihat tapi menghantam jantung.


“Ismi, pulanglah. Jangan pernah ucapkan hal ini lagi. Tidak di sini. Tidak ke saya.”


Ismi mengerutkan alis, mencoba memahami.


“Tapi saya… saya nggak bohong. Saya cuma ingin Bapak tahu…”


“Saya tidak mau tahu.”


Pak Joko berbalik. Tatapannya tajam, tapi kosong.


“Kamu hanya seorang anak yang kesepian. Dan saya hanya pria tua yang kebetulan kamu anggap penting. Itu bukan cinta. Itu salah.”


Ismi menelan ludah. Kata-kata itu seperti cambuk, mencabik bagian dalam dirinya yang sudah lama rapuh.


“Kenapa Bapak harus sekejam ini?” bisiknya, hampir tak terdengar.

“Karena lebih kejam kalau saya beri harapan.”


Hening. Hanya terdengar detik jam dan angin yang menyeret tirai jendela.


Pak Joko melangkah ke meja, mengambil berkas-berkas, lalu duduk seperti tidak terjadi apa-apa.


“Kamu sudah selesai? Kalau begitu, pintunya ada di belakangmu.”


Ismi tidak menangis. Air matanya bahkan takut jatuh saat itu. Ia hanya diam, seperti tubuh tanpa nyawa.

Lalu perlahan melangkah mundur… membuka pintu… dan menutupnya dengan suara paling lirih yang pernah didengar ruangan itu.

Mata Ismi menatap kosong. Tangannya mengepal. Ia hanya mengangguk… lalu berjalan pergi. Tapi di dalam pikirannya, suara-suara mulai berbisik:


“Kalau dia nolak kamu hidup-hidup… ambil dia dalam diam. Jadikan dia milikmu selamanya.”


Hujan mengguyur senyap di luar gedung olahraga. Waktu sudah hampir pukul lima sore. Sekolah sepi.


Pak Joko berdiri di ruang ganti, hanya mengenakan celana olahraga gelap. Kaosnya sudah ia lepas dan dilempar ke bangku kayu.


Tubuhnya berdiri kokoh di depan cermin, napasnya masih berat setelah melatih tim futsal selama dua jam nonstop. Otot dadanya mengembang setiap kali ia menghembuskan napas, dan tetesan keringat turun perlahan dari dada bidang menuju perut sixpack yang basah dan berkilau.


Ia menyeka wajahnya dengan handuk, lalu mengangkat kedua lengannya untuk mengibas rambutnya yang lembap.


Di luar pintu… Ismi mengintip.


Ia berdiri diam, matanya membara, bibirnya gemetar.

Wangi maskulin tubuh Pak Joko—campuran keringat, deodoran, dan sabun pria—menyusup ke dalam rongga pikirannya seperti candu.


Gunting tajam sudah tergenggam erat di tangan.


“Indah sekali…” bisiknya.


Ia membuka pintu tanpa suara.


Pak Joko tidak sadar.


Langkah pelan. Pelan. Jantung Ismi berpacu. Tangannya berkeringat.


Ia berdiri di belakang idolanya. Matanya menatap lekat otot punggung yang menegang, bahu lebar, dan garis tulang belakang yang meneteskan keringat.


Pak Joko sedikit menoleh—dan saat itulah—


SRAKK!!


Gunting itu menancap ke sisi bawah rusuknya. Tepat di atas pinggang.


“ARGHH!!”


Pak Joko berteriak, tubuhnya berbalik, berusaha bertahan.


“ISMI! APA KAU—ARGH!!”


Tusukan kedua menghantam dada kirinya. Keringat dan darah langsung bercampur, membuat kulitnya licin. Tapi ototnya masih kuat. Ia mendorong Ismi, tapi gadis itu menggila.


“Kamu terlalu indah untuk dimiliki dunia lain…” teriaknya, matanya melebar.


Pak Joko merangkak ke belakang. Dadanya naik turun. Dada bidangnya kini berdarah, tapi masih mengembang karena napas kuatnya.


Ismi menyerang lagi.


Tusukan demi tusukan—ke dada, ke lengan, ke perut.


Pak Joko melawan, tapi tubuhnya mulai melemah. Darah menetes deras dari perut sixpack-nya yang sobek. Tapi yang paling mengerikan…


Adalah saat Ismi berjongkok, memandang tubuh itu…

…dan mulai memotong bagian tengah perut Pak Joko.


“Sixpack-mu… terlalu sempurna…”


“Aku harus lihat isinya…”


SRAK…


Perut Pak Joko robek.

Ususnya mengintip keluar.

Ismi tertawa kecil.


“Sekarang aku tahu rahasia ototmu…”


Pak Joko hanya bisa mengerang. Napasnya tercekat. Ia masih hidup. Masih sadar. Tapi tubuhnya tak bisa bergerak.


Ismi naik ke atas tubuhnya, duduk di atas dada berdarah itu.


Ia menyentuh pipinya yang dingin. Memandang ke matanya yang mulai kabur.


“Kamu wangi sekali, bahkan saat sekarat…” bisiknya.


Lalu…


SRAK. SRAK. SRAK. SRAK. SRAK.


Tusukan ratusan kali menghujani dada bidang yang dulu membuat Ismi bermimpi. Darah memuncrat seperti air dari kantong bocor. Otot dada terkoyak. Kulit pecah. Tulang retak.


Ismi memeluk tubuhnya erat.

Ia berbaring di atasnya. Bibirnya hampir menyentuh wajah Pak Joko yang kini kosong dan diam.


“Sekarang kamu… milikku. Dalam. Luar. Sampai isi tubuhmu sekalipun.”


Bab 1: Ditemukan


Pagi itu, ruang ganti sekolah dibanjiri lampu biru.

Polisi, forensik, dan wartawan memadati lokasi.


Tubuh Pak Joko ditemukan tergeletak dalam kondisi mengenaskan.

Lebih dari 100 luka tusuk menutupi tubuhnya. Darah menggenang di lantai dan merembes ke sela-sela ubin.


Bagian dada bidang dan perut sixpack yang dulu menjadi pujaan banyak orang, kini koyak—seperti dibedah oleh seseorang yang tidak hanya membenci… tapi juga terobsesi.


Ismi ditangkap di tempat. Tenang. Matanya kosong. Tapi bibirnya terus bergumam:


“Aku cuma ingin tahu… isi tubuhnya seindah luarannya…”



Bab 2: Kultus Tubuh


Pak Joko dikenal bukan hanya sebagai guru olahraga…

Tapi juga sebagai sosok ideal—pria gagah, sehat, tampan, dan wangi. Banyak murid dan bahkan guru diam-diam mengagumi posturnya. Tubuhnya seperti mitos hidup di sekolah itu.


Ketika foto-foto TKP bocor ke internet (meski disensor sebagian), reaksi publik terbelah.


Banyak yang berduka.

Tapi ada yang justru… mengagumi.


“Bahkan setelah tewas, ototnya masih sempurna.”

“Seratus tikaman, tapi tubuhnya masih seperti patung.”

“Kenapa bukan aku yang melihat dia terakhir kali?”


Kekaguman mulai bergeser jadi kultus aneh.



Bab 3: Ibu Rina


Di ruang jenazah darurat sekolah, tubuh Pak Joko dibaringkan sementara sebelum dibawa.

Darah sudah mulai mengering di bagian dada dan perut. Tapi bentuk tubuhnya masih terlihat jelas.


Ibu Rina, guru Bahasa Indonesia, datang malam itu untuk mengantar dokumen. Tapi ketika melihat ruang itu kosong… dan pintu tidak terkunci…


Ia masuk.

Menutup pintu perlahan.

Menguncinya.


Napasnya berat.


Ia mendekati tubuh Pak Joko, lalu berlutut di sampingnya.

Tangannya menyentuh dada yang dulu ia perhatikan diam-diam saat pelajaran olahraga.


“Pak Joko… bahkan setelah mati, tubuhmu masih… sempurna.”


Ia menyandarkan wajahnya pada dada berdarah itu. Memeluk.

Mencium bau samar sabun dan darah kering.

Matanya berkaca-kaca.


Tapi tiba-tiba…


Tubuh Pak Joko bergerak sedikit.

Mungkin hanya sisa reaksi otot. Tapi cukup membuat Ibu Rina terlonjak.


“A-apa… Pak Joko… kamu… kamu hidup?”


Tangannya meraih sesuatu di atas meja. Sebuah gunting medis.


Dan—tanpa berpikir—


SRAK!

Ia tikam sekali.

Lalu lagi.

Dan lagi.


“Jangan bangkit… aku tak siap melihat kamu hidup setelah seperti ini…”


Tangisnya pecah.

Pintu didobrak oleh petugas medis yang mendengar suara ribut.


Ibu Rina terduduk, gemetar. Tangannya bersimbah darah.



Bab 4: Menular


Itu hanya awal.


Besoknya, murid-murid mulai menempel foto Pak Joko di loker mereka.

Beberapa menulis puisi darah di papan tulis malam-malam.

Ada yang menggantung sepatu olahraga berlumur cat merah di pagar sekolah, seolah bentuk penghormatan.


Kematian Pak Joko berubah jadi semacam kultus fisik.


Tubuhnya jadi lambang obsesi.


Dan di ruang isolasi rumah tahanan, Ismi tersenyum.

Komentar